AI Mengancam? Strategi Desain Grafis Agar Lulusannya Tak Usang Dimakan Transformasi Digital

Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi (KPPTI) 2025 di Unesa menyoroti isu krusial mengenai kesiapan perguruan tinggi menghadapi era disrupsi digital. Dalam paparan tentang Kepemimpinan Transformasional, Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA., Ketua Majelis Wali Amanat ITS, secara khusus menekankan bahwa kampus harus redefinisikan model akademik untuk memastikan lulusan memiliki good adaptability dan kesiapan menghadapi tantangan Digital Transformation & AI Integration. Fokus ini mendesak Prodi Desain Grafis untuk merevolusi kurikulum agar desainer masa depan tidak sekadar menjadi operator tools, tetapi pemimpin transformasi visual.

Redefinisi Model Akademik: Desainer Bukan Hanya Operator, Tapi Strategis

Mohammad Nuh menempatkan Digital Transformation & AI Integration sebagai pilar utama Kepemimpinan Transformasional Perguruan Tinggi (PT). Dalam konteks Desain Grafis, integrasi AI Generatif menghadirkan ancaman sekaligus peluang. Tugas-tugas desain dasar yang bersifat repetitif dan teknis kini semakin mudah digantikan oleh kecerdasan buatan. Oleh karena itu, model akademik Desain Grafis harus bergeser dari pengajaran teknis ke pengajaran strategis.

Konsep Kemanfaatan sebagai ruh Tridharma PT, yang diangkat oleh Mohammad Nuh, menegaskan bahwa ilmu dan riset harus menjawab kebutuhan (masalah) yang dinamis. Di bidang desain, kebutuhan tersebut adalah:

  1. Kemampuan Prompt Engineering: Desainer harus mahir dalam mengelola dan mengarahkan AI untuk menghasilkan solusi visual yang kompleks dan bernilai jual, bukan hanya menerima hasil mentah.
  2. Keahlian Visualisasi Data: Sejalan dengan tuntutan Dampak Ekonomi dan Kebijakan yang disuarakan Prof. Wenten, desainer harus mampu mengubah data yang rumit menjadi infographics atau sistem visual yang kuat untuk memengaruhi keputusan bisnis dan kebijakan publik.
  3. High Curiosity dan Lifelong Learning: Dr. Nuh menyoroti pentingnya ras ingin tahu yang tinggi (high curiosity) dan kemampuan adaptasi yang baik (good adaptability) sebagai modal utama lulusan. Desainer harus aktif mencari dan menguasai tools dan metode baru secara mandiri.

Mempersiapkan Future Workforce: Peran Kolaborasi Multi-Helix

Prodi Desain Grafis Unesa memahami bahwa redefinisi model akademik tidak bisa dilakukan secara silo (terpisah). Nuh menekankan bahwa Tridharma harus “Dari Silo (terpisah-pisah) menjadi Satu Kesatuan-Sinergi, Bermuara pada Kebermanfaatan (Dampak) Bagi Masyarakat.”

Implementasinya dalam Desain Grafis mencakup:

  • Penyatuan Riset dan Praktik: Proyek desain, seperti pengembangan Vocamerch atau APE Mitigasi Bencana, harus dilakukan melalui kolaborasi industri dan masyarakat (Multi-Helix) sejak dini, sehingga lulusan terbiasa menciptakan Innovation yang memiliki kebaruan (novelty) dan kemampuan memecahkan masalah (usefulness).
  • Etika dan Tanggung Jawab Digital: Dalam menghadapi integrasi AI yang pesat, kurikulum harus mencakup pembahasan etika penggunaan AI dalam desain, hak cipta (HAKI), dan tanggung jawab sosial desainer dalam memerangi hoax melalui desain komunikasi yang kredibel.

Prodi Desain Grafis berkomitmen menjadikan setiap mata kuliah—dari Desain Komunikasi Visual hingga Kewirausahaan—sebagai laboratorium untuk melahirkan Transformational Leaders di bidang kreatif. Dengan berpegangan pada pilar Kepemimpinan Transformasional, kami berharap lulusan Desain Grafis siap bukan hanya bersaing, tetapi memimpin proses transformasi digital di Indonesia menuju Kejayaan Indonesia Emas 2045.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *